Sabtu, 3 Januari 2026.
Dear diary-nya Rey.
Hari ini bisa dibilang lebih banyak jalan-jalan. Setelah rencana pagi ke pantai nggak terlaksana karena hujan sepanjang pagi, siangnya kami akhirnya berhasil keluar.
Sabtu, 3 Januari 2026.
Dear diary-nya Rey.
Hari ini bisa dibilang lebih banyak jalan-jalan. Setelah rencana pagi ke pantai nggak terlaksana karena hujan sepanjang pagi, siangnya kami akhirnya berhasil keluar.
Jumat, 2 Januari 2026
Dear diary-nya Rey,
Hari ini lumayan menyenangkan, meski ada juga yang bikin sedih.
Paginya, saya masak nasi, beresin kos, abis itu tidur lagi. Terbangun karena Jouke telpon ngabarin tentang mama yang mau ke Baubau, besok.
Kamis, 1 Januari 2026
Dear diary-nya Rey.
Hari ini dimulai dengan menikmati pergantian tahun di kedai kopi Renovfood Social Space depan klinik Farus Medika.
Dear diary-nya Rey,
Malam ini saya jaga malam di klinik, dan saya putuskan duduk menulis karena nggak ada pasien. Btw, akhir-akhir ini saya merasa nggak jelas. Antara hampa atau kosong, atau merasa takut akan masa depan, atau pesimis, kecewa, sedih dan semua hal silih berganti di dalam hati.
Menyesali kebodohan yang saya lakukan, kadang menyesali mengapa saya mau aja pulang ke Buton. Sementara hingga saat ini, rasanya saya belum merasa ada hal yang membaik terutama dalam hal keuangan.
Saya udah kerja di sebuah klinik sih, tapi klinik ini sepi banget. Bahkan hingga tanggal 11 kami belum gajian.
Diam-diam saya merasa takut dan nggak enakan, apakah klinik ini akan segera tutup?. Dan seumur-umur baru kali ini loh saya kerja dan gajinya telat dibayarkan.
Padahal gajinya juga masya Allah sekali jumlahnya.
Di sisi lain, pengeluaran selama di Baubau ini juga luar biasa. Ada aja setiap harinya, sementara pemasukan hampir nggak ada.
Job blogger rasanya makin nggak terdengar kabarnya. Rekening BCA ku kosong melompong.
Ya Allah, rasanya pengen nangis, takut besok-besok gimana nasib saya. Rasanya sejak di Buton tuh rezeki saya selalu bergantung pada keluarga. Dan sungguh sedih rasanya kalau diungkit-ungkit.
Tapi, pengen balik ke Surabaya juga nggak semudah itu, selain semua barang udah diangkut ke sini, terutama motorpun udah di sini.
Yang bisa saya lakukan hanya pasrah dan berbaik sangka selalu kepada Allah. Berdoa agar Allah masih mau memberikan saya kesempatan untuk bahagia dan berkecukupan.
Pengennya sih saya punya penghasilan yang cukup, punya imam yang bertanggung jawab, punya sahabat hidup hingga ke jannah. Meskipun saya tak tahu, apakah masih bisa saya dipertemukan dengan orang yang berjodoh dan cocok serta sekufu dan se visi misi dengan saya.
Ah entahlah.
Baubau, 11-09-2024
Dear diary-nya Rey,
Malam ini pukul 22.06, saya mengetik tulisan ini menggunakan komputer di klinik. Si Adik di samping saya sedang mengetik ceritanya untuk blog katanya.
Sudah beberapa hari ini si Adik ikut saya ngantor, karena memang nggak ada tempat buat nitipin dia. Well, ada sih beberapa sodara dan teman yang nawarin buat dititipin di mereka aja. Akan tetapi, selain saya sungkan, si Adik pun masih menolak karena belum terlalu kenal sodara dan teman tersebut.
Dear diary-nya Rey.
Seperti malam kemarin, saya menangis lagi di jam-jam sekarang. Entah merindukan seseorang, entah merasa sangat kesepian, entahlah.
Saya merasa nggak bisa terus menerus bertahan lama di rumah ini, segalanya bikin mood saya memburuk. Sebenarnya seharian saya merasa lebih baik karena nggak ada mama.
Dear diary-nya Rey,
Jam-jam rawan nih buat saya, pukul 21.24 and still counting. Biasanya jam segini harap-harap cemas menanti telpon.
Kadang saya udah menyiapkan hati untuk tidak mengangkat telponnya, lalu ketika telpon berdering, ya elah lupa semuanya.