Kamis, 1 Januari 2026
Dear diary-nya Rey.
Hari ini dimulai dengan menikmati pergantian tahun di kedai kopi Renovfood Social Space depan klinik Farus Medika.
Kamis, 1 Januari 2026
Dear diary-nya Rey.
Hari ini dimulai dengan menikmati pergantian tahun di kedai kopi Renovfood Social Space depan klinik Farus Medika.
Dear diary-nya Rey,
Malam ini saya jaga malam di klinik, dan saya putuskan duduk menulis karena nggak ada pasien. Btw, akhir-akhir ini saya merasa nggak jelas. Antara hampa atau kosong, atau merasa takut akan masa depan, atau pesimis, kecewa, sedih dan semua hal silih berganti di dalam hati.
Menyesali kebodohan yang saya lakukan, kadang menyesali mengapa saya mau aja pulang ke Buton. Sementara hingga saat ini, rasanya saya belum merasa ada hal yang membaik terutama dalam hal keuangan.
Saya udah kerja di sebuah klinik sih, tapi klinik ini sepi banget. Bahkan hingga tanggal 11 kami belum gajian.
Diam-diam saya merasa takut dan nggak enakan, apakah klinik ini akan segera tutup?. Dan seumur-umur baru kali ini loh saya kerja dan gajinya telat dibayarkan.
Padahal gajinya juga masya Allah sekali jumlahnya.
Di sisi lain, pengeluaran selama di Baubau ini juga luar biasa. Ada aja setiap harinya, sementara pemasukan hampir nggak ada.
Job blogger rasanya makin nggak terdengar kabarnya. Rekening BCA ku kosong melompong.
Ya Allah, rasanya pengen nangis, takut besok-besok gimana nasib saya. Rasanya sejak di Buton tuh rezeki saya selalu bergantung pada keluarga. Dan sungguh sedih rasanya kalau diungkit-ungkit.
Tapi, pengen balik ke Surabaya juga nggak semudah itu, selain semua barang udah diangkut ke sini, terutama motorpun udah di sini.
Yang bisa saya lakukan hanya pasrah dan berbaik sangka selalu kepada Allah. Berdoa agar Allah masih mau memberikan saya kesempatan untuk bahagia dan berkecukupan.
Pengennya sih saya punya penghasilan yang cukup, punya imam yang bertanggung jawab, punya sahabat hidup hingga ke jannah. Meskipun saya tak tahu, apakah masih bisa saya dipertemukan dengan orang yang berjodoh dan cocok serta sekufu dan se visi misi dengan saya.
Ah entahlah.
Baubau, 11-09-2024
Dear diary-nya Rey,
Malam ini pukul 22.06, saya mengetik tulisan ini menggunakan komputer di klinik. Si Adik di samping saya sedang mengetik ceritanya untuk blog katanya.
Sudah beberapa hari ini si Adik ikut saya ngantor, karena memang nggak ada tempat buat nitipin dia. Well, ada sih beberapa sodara dan teman yang nawarin buat dititipin di mereka aja. Akan tetapi, selain saya sungkan, si Adik pun masih menolak karena belum terlalu kenal sodara dan teman tersebut.
Dear diary-nya Rey.
Seperti malam kemarin, saya menangis lagi di jam-jam sekarang. Entah merindukan seseorang, entah merasa sangat kesepian, entahlah.
Saya merasa nggak bisa terus menerus bertahan lama di rumah ini, segalanya bikin mood saya memburuk. Sebenarnya seharian saya merasa lebih baik karena nggak ada mama.
Dear diary-nya Rey,
Jam-jam rawan nih buat saya, pukul 21.24 and still counting. Biasanya jam segini harap-harap cemas menanti telpon.
Kadang saya udah menyiapkan hati untuk tidak mengangkat telponnya, lalu ketika telpon berdering, ya elah lupa semuanya.
Dear diary-nya Rey,
Ceritanya sekarang tuh saya lagi sedih dan galau. Semalam akhirnya saya berani untuk tegas pada seseorang yang salah datang ke hidup saya.
Seperti biasa, dia setuju, tapi saya mendengar nada kemarahan seperti yang lalu.
Dear diary-nya Rey.
Malam ini saya merasa nggak karuan, ada sedih, kesal, happy juga.
Dan sepertinya akan lebih baik kalau saya menuliskan jurnal dan refleksi perasaan lagi.
Bahwa, malam ini:
Saya merasa campur aduk.
Sore tadi saya menangis, karena memikirkan kehidupan saya belakangan ini yang terkungkung tanpa daya. Nggak ada masa depan, menghabiskan sisa usia di sini serasa sia-sia.
Saya tak suka kondisi begini, tanpa pemasukan, nggak ada yang bisa saya lakukan, selain masak, nyuci, beberes dan semacamnya, huhuhu.
Setelah itu saya curhat sama bestie, agak terhibur dengan semua candaannya, lalu menyadari kayaknya saya butuh refreshing deh, biar nggak stres.
Lalu mulai searching penginapan, insya Allah mau pergi sendirian minggu ini, sekalian ambil paket.
Setelah itu, pikiran sedikit happy, tapi pas lagi scroll medsos, lah kok kepikiran dia lagi. Mulai kangen lagi, tapi bercampur kesal dan mulai muncul perasaan yang normal. Memikirkan semua minusnya, dan mengingatkan hati lagi bahwa...
Kamu tak menginginkan dia Rey, kamu hanya sedang kesepian.
Yang paling membuat sedih adalah rasa tak berdaya terkungkung di sini
Sudah mau masuk bulan ke-6, dan saya tak punya sesuatu yang bisa dilakukan. Pemasukan semakin jarang bahkan berhenti sama sekali, sementara kebutuhan anak terus berjalan.
Barang-barang kami mulai rusak, nggak ada yang bisa dibeli dengan mudah.
Saya mulai berpikir, awalnya saya happy-happy aja meninggalkan banyak barang di Surabaya, meskipun barang itu bagus-bagus semua. Lalu seiring waktu mulai merindukan barang-barang tersebut, kadang juga ditepis oleh pikiran,
Ah Rey, kamu jangan terlalu ketergantungan sama barang.
Tapi nyatanya emang sebelumnya tuh hidup saya lumayan asyik, punya barang-barang baru, tapi nggak perlu mengeluarkan uang.
Di sini, ah bahkan saya udah malas bahasnya.
Dan saya berpikir, sepertinya keputusan balik ke sini memang salah besar, hiks.
Sebenarnya, yang aku butuhkan bukan dia, tapi uang atau kegiatan yang menghasilkan uang
Bisa-bisanya gitu loh saya ini, tenggelam merindukan orang yang sebenarnya NGGAK BANGET. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya nggak benar-benar merindukan dia sih, saya hanya merasa kesepian. Dan dia bayangan terakhir yang ada di pikiran saya, makanya merindukan dia.
Tapi sebenarnya yang benar-benar saya butuhkan itu adalah duit, wakakakakaka. Atau kegiatan yang mendatangkan duit, hehehe.
Kalau aku bisa memeluk diriku sendiri malam ini, aku akan berkata,
Tenanglah Rey, kamu baik-baik saja, insya Allah sekarang disuruh istrahat sebentar, setelah ini bakal ada kehidupan yang lebih baik, aamiin.
Dan kamu tak benar-benar merindukannya, kamu hanya kesepian Rey!